Hari Jum'at, 03 April 2009.. pas lagi mimpin pertemuan dharma wanita di kantor my husband.. kebetulan pagi tadi ada berita anak temanku meninggal dunia.. karena truck yang ada didepannya tiba2 mundur.. padahal dia sudah membunyikan klakson dan orang2 sekitar sudah teriak2.. ternyata sopir pake earphone.. so nggak kedengeran.. tragis....
Beberapa waktu lalu juga anak temenku yang lain, juga mengalami kecelakaan.. dan salah satu anak dari anggota dwp yang waktu itu hadir juga mengalami kecelakaan dan patah tulangnya.. aku ikut prihatin.. so.. aku jadikan bahan untuk pengarahanku ke ibu2 yang lain.. untuk tetap waspada dan hati2 dijalanan.. serta tetap sabar, ikhlas dan tawakal dalam setiap musibah yang menimpa kita, keluarga maupun saudara2 kita.... eh.. tiba2 ada salah satu ibu yang kebetulan baru datang dan duduk dikursi paling belakang nyeletuk... "gampang bu untuk bicara, tapi sulit untuk dipraktekkan"... Astaghfirullah... aku kaget banget.. kok ada komentar seperti itu... Aku coba untuk menjelaskan bahwa memang manusiawi banget bahwa kita tidak mudah untuk menerima musibah/cobaan yang menimpa diri kita dengan kesabaran dan keikhlasan hati... rasa sedih.. kecewa.. duka.. itu pasti ada... tapi paling tidak sebagai orang beriman kita harus berupaya untuk bisa sabar.. karena Alloh juga telah menjanjikan bahwa ujian/cobaan yang ditimpakan kepada kita adalah suatu ujian kesabaran dan menjadi jalan peningkatan kualitas keimanan kita...
Sempat aku berpikir... ibu tadi memang bulan depan sang suami akan pensiun.. suaminya secara usia memang lebih senior dari suamiku.. tapi Alloh berkehendak bahwa suamikulah yang menjadi leader... dari cerita2 yang kudengar.. beliau ini nggak legawa kalau dipimpin oleh orang yang lebih muda.. jadi sering mbalelo... alasannya karena akan pensiun... jadi yang lain saja.. dan si ibu tersebut juga sama.. merasa aku kurang pantas untuk memimpin beliau... aku bisa menilai dari ucapan2 dan bahasa tubuh yang kutangkap...
Ya Alloh... ampuni aku.. tidak seharusnya aku berprasangka buruk...
Begitu selesai aku menutup arahanku kepada ibu2... aku duduk... dan berkali2 ponselku berbunyi yang tadinya tidak aku angkat.. sekarang aku angkat... dari rumah... ternyata mbak lam memberitahuku... "Bu.. Ninok tadi nelpon... Mas Nopal kecelakaan".... AstaghfirullohAl Azim.. kondisinya gimana? tanyaku... " Duko bu.. kolowau langsung ditutup".... Aku hanya bisa istighfar... dan berupaya untuk sabar.... Ya Alloh.. baru saja aku memberitahukan agar sabar dan ikhlas dalam menerima cobaan... sekarang Engkau langsung mengujiku... bahwa aku harus sabar....
Rasa yang ada dalam batinku berkecamuk... tapi lantunan istighfarku menenangkanku.. walau mbak Ninok (kakakku yang di sby) tidak bisa kuhubungi... sambil terus kuikuti acara pertemuan dwp itu dengan rasa hampa.. tapi tetap kucoba untuk tersenyum dihadapan ibu2.... "Ada berita apa bu? " Bu Cip bertanya kepadaku.. mungkin dari tadi mengamatiku... dan mengetahui perubahan sikapku setelah menerima telpon... " Ya.. itu bu.. tadi ada kabar anak saya yang di Sby mengalami kecelakaan...tapi saya juga belum tahu kondisinya.." kataku dengan senyum yang pasti kelihatan terpaksa deh.....
"Sabar ya bu... mudah2an tidak ada apa2 terhadap mas Nopal"... kata bu Cip lagi... "Makasih ya bu.. terimakasih.. dan mohon doanya" jawabku... Ibu2 yang lain mengikuti untuk memberikan support padaku... acara selesai aku belum bisa kontak dengan kakakku...
Aku lihat ruangan kerja suamiku.. kosong.. dan stafnya bilang "Bapak keluar bu"... "Oh ya.. makasih mbak"... Aku coba nelpon lewat ponselku... ndak ada jawaban...
Aku beranjak pulang.. sementara anakku yang terkecil.. menelponku.. sambil berteriak teriak.. "Mama... mas Nopal kecelakaan... aku gak mau mas Nopal mati... kenapa toh mas Nopal kok kecelakaan..." Ya Alloh.. semakin ciut hatiku... Istighfar tetap kulantunkan... Ya Alloh.. lindungi anakku.. kuhapus bayangan2 yang ndak2.... Ada SMS dari suamiku... Aku masih rapat... Ya.. aku putuskan untuk tidak memberitahukan.. karena pasti akan mengganggunya.... hampir bersamaan.. ada telpon dari kakak tertuaku.. mas Dong... memberitahukan keadaan anakku... Alhamdulillah.. tidak apa2.. hanya jari2nya patah... tidak ada gegar otak... anaknya masih sadar.. bahkan bisa diajak bicara... cuman perlu pengecekan lebih lanjut agar bisa diketahui secara lengkap apa ada kelainan atau trauma fisik lainnya... dan menyarankan aku untuk tidak terburu2 ke Sby... Alhamdulillah... tapi ya Alloh.. perasaan segera ingin ketemu dengan anakku tak tertahankan.. tapi tidak mungkin aku berangkat sendiri tanpa suamiku... badanku udah lemes.. dan masih berdebar2...
Ternyata memang benar... suamiku rapat agak lama... bahkan sampai jam 9 malam... ya aku menunggu dengan mencoba untuk sabar... Ya Alloh.. apa iya aku sudah sabar.... setelah pulang baru kukabari... dan kata suamiku.. "kenapa ndak bilang dari tadi?"... setelah kujelaskan dan kuberitahu kondisinya.. barulah suamiku maklum... ya udah sekarang kita siap2 ke Sby...
Kurang lebih jam setengah 12 malam.. aku dah nyampai rumah ibu di Sby.. tempat anakku tinggal... dan ternyata dia juga baru pulang... langsung aku masuk kamar... dia sudah tidur... Ya Alloh.. kasihan anakku... tangan kanannya berbalut gips... dan raut wajahnya bengkak dengan 2 jahitan di dagu dan bibirnya... dia membuka matanya sebentar sambil memanggil namaku.. "Mama".. "ya nak.. tidur dulu.. besok aja ya ceritanya...."
Ya Alloh... aku merasa bersalah.. karena aku ndak ada disampingnya saat perawatan tadi... maafkan aku Ya Alloh.. kalau aku tidak optimal dalam menjalankan amanah yang kau titipkan pada kami.... Ampuni aku ya Alloh...
Banyak hikmah dari kejadian ini... mungkin Alloh ingin menguji kesabaranku dengan membuktikan ucapanku dihadapan ibu2 dwp.. terutama terhadap ibu yang nyeletuk tadi.. harusnya aku ndak perlu jengkel.. atau merasa kecewa dengan celetukannya itu.. memang agak mengagetkan.. tapi justru kata2nya dapat menjadi pengingat kita agar terus berusaha untuk sabar dan ikhlas.. tidak hanya dibibir saja.. tapi juga di lahirnya...
Bagi anakku... hikmah dia harus lebih tenang dan harus pamit jika akan keluar rumah.. menghormati orang tua.. eyang... budenya... dan kakaknya....tidak ceroboh.. tidak teledor... Ya Alloh.. jadikanlah setiap kejadian yang diterima anakku.. baik senang maupun susah.. sebagai suatu hikmah untuk perbaikan perilakunya... Jadikan anakku orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain... orang tuanya... eyangnya.. budenya.. kakaknya... adik2nya... teman2nya... guru2nya.. dan orang2 lain disekitarnya.... doa itu selalu kulantunkan setiap selesai sholat... kabulkan Ya Alloh...
Ya Alloh.. jadikan semua cobaan dan musibah yang menimpa kami suatu jalan peningkatan kualitas iman kami... dekatkan kami selalu dengan Mu.. jangan jauhkan kami dari Mu.. Ya Alloh....
Sabar dan ikhlas semoga bisa kulakukan... walaupun itu tak mudah dilaksanakan...
Beberapa waktu lalu juga anak temenku yang lain, juga mengalami kecelakaan.. dan salah satu anak dari anggota dwp yang waktu itu hadir juga mengalami kecelakaan dan patah tulangnya.. aku ikut prihatin.. so.. aku jadikan bahan untuk pengarahanku ke ibu2 yang lain.. untuk tetap waspada dan hati2 dijalanan.. serta tetap sabar, ikhlas dan tawakal dalam setiap musibah yang menimpa kita, keluarga maupun saudara2 kita.... eh.. tiba2 ada salah satu ibu yang kebetulan baru datang dan duduk dikursi paling belakang nyeletuk... "gampang bu untuk bicara, tapi sulit untuk dipraktekkan"... Astaghfirullah... aku kaget banget.. kok ada komentar seperti itu... Aku coba untuk menjelaskan bahwa memang manusiawi banget bahwa kita tidak mudah untuk menerima musibah/cobaan yang menimpa diri kita dengan kesabaran dan keikhlasan hati... rasa sedih.. kecewa.. duka.. itu pasti ada... tapi paling tidak sebagai orang beriman kita harus berupaya untuk bisa sabar.. karena Alloh juga telah menjanjikan bahwa ujian/cobaan yang ditimpakan kepada kita adalah suatu ujian kesabaran dan menjadi jalan peningkatan kualitas keimanan kita...
Sempat aku berpikir... ibu tadi memang bulan depan sang suami akan pensiun.. suaminya secara usia memang lebih senior dari suamiku.. tapi Alloh berkehendak bahwa suamikulah yang menjadi leader... dari cerita2 yang kudengar.. beliau ini nggak legawa kalau dipimpin oleh orang yang lebih muda.. jadi sering mbalelo... alasannya karena akan pensiun... jadi yang lain saja.. dan si ibu tersebut juga sama.. merasa aku kurang pantas untuk memimpin beliau... aku bisa menilai dari ucapan2 dan bahasa tubuh yang kutangkap...
Ya Alloh... ampuni aku.. tidak seharusnya aku berprasangka buruk...
Begitu selesai aku menutup arahanku kepada ibu2... aku duduk... dan berkali2 ponselku berbunyi yang tadinya tidak aku angkat.. sekarang aku angkat... dari rumah... ternyata mbak lam memberitahuku... "Bu.. Ninok tadi nelpon... Mas Nopal kecelakaan".... AstaghfirullohAl Azim.. kondisinya gimana? tanyaku... " Duko bu.. kolowau langsung ditutup".... Aku hanya bisa istighfar... dan berupaya untuk sabar.... Ya Alloh.. baru saja aku memberitahukan agar sabar dan ikhlas dalam menerima cobaan... sekarang Engkau langsung mengujiku... bahwa aku harus sabar....
Rasa yang ada dalam batinku berkecamuk... tapi lantunan istighfarku menenangkanku.. walau mbak Ninok (kakakku yang di sby) tidak bisa kuhubungi... sambil terus kuikuti acara pertemuan dwp itu dengan rasa hampa.. tapi tetap kucoba untuk tersenyum dihadapan ibu2.... "Ada berita apa bu? " Bu Cip bertanya kepadaku.. mungkin dari tadi mengamatiku... dan mengetahui perubahan sikapku setelah menerima telpon... " Ya.. itu bu.. tadi ada kabar anak saya yang di Sby mengalami kecelakaan...tapi saya juga belum tahu kondisinya.." kataku dengan senyum yang pasti kelihatan terpaksa deh.....
"Sabar ya bu... mudah2an tidak ada apa2 terhadap mas Nopal"... kata bu Cip lagi... "Makasih ya bu.. terimakasih.. dan mohon doanya" jawabku... Ibu2 yang lain mengikuti untuk memberikan support padaku... acara selesai aku belum bisa kontak dengan kakakku...
Aku lihat ruangan kerja suamiku.. kosong.. dan stafnya bilang "Bapak keluar bu"... "Oh ya.. makasih mbak"... Aku coba nelpon lewat ponselku... ndak ada jawaban...
Aku beranjak pulang.. sementara anakku yang terkecil.. menelponku.. sambil berteriak teriak.. "Mama... mas Nopal kecelakaan... aku gak mau mas Nopal mati... kenapa toh mas Nopal kok kecelakaan..." Ya Alloh.. semakin ciut hatiku... Istighfar tetap kulantunkan... Ya Alloh.. lindungi anakku.. kuhapus bayangan2 yang ndak2.... Ada SMS dari suamiku... Aku masih rapat... Ya.. aku putuskan untuk tidak memberitahukan.. karena pasti akan mengganggunya.... hampir bersamaan.. ada telpon dari kakak tertuaku.. mas Dong... memberitahukan keadaan anakku... Alhamdulillah.. tidak apa2.. hanya jari2nya patah... tidak ada gegar otak... anaknya masih sadar.. bahkan bisa diajak bicara... cuman perlu pengecekan lebih lanjut agar bisa diketahui secara lengkap apa ada kelainan atau trauma fisik lainnya... dan menyarankan aku untuk tidak terburu2 ke Sby... Alhamdulillah... tapi ya Alloh.. perasaan segera ingin ketemu dengan anakku tak tertahankan.. tapi tidak mungkin aku berangkat sendiri tanpa suamiku... badanku udah lemes.. dan masih berdebar2...
Ternyata memang benar... suamiku rapat agak lama... bahkan sampai jam 9 malam... ya aku menunggu dengan mencoba untuk sabar... Ya Alloh.. apa iya aku sudah sabar.... setelah pulang baru kukabari... dan kata suamiku.. "kenapa ndak bilang dari tadi?"... setelah kujelaskan dan kuberitahu kondisinya.. barulah suamiku maklum... ya udah sekarang kita siap2 ke Sby...
Kurang lebih jam setengah 12 malam.. aku dah nyampai rumah ibu di Sby.. tempat anakku tinggal... dan ternyata dia juga baru pulang... langsung aku masuk kamar... dia sudah tidur... Ya Alloh.. kasihan anakku... tangan kanannya berbalut gips... dan raut wajahnya bengkak dengan 2 jahitan di dagu dan bibirnya... dia membuka matanya sebentar sambil memanggil namaku.. "Mama".. "ya nak.. tidur dulu.. besok aja ya ceritanya...."
Ya Alloh... aku merasa bersalah.. karena aku ndak ada disampingnya saat perawatan tadi... maafkan aku Ya Alloh.. kalau aku tidak optimal dalam menjalankan amanah yang kau titipkan pada kami.... Ampuni aku ya Alloh...
Banyak hikmah dari kejadian ini... mungkin Alloh ingin menguji kesabaranku dengan membuktikan ucapanku dihadapan ibu2 dwp.. terutama terhadap ibu yang nyeletuk tadi.. harusnya aku ndak perlu jengkel.. atau merasa kecewa dengan celetukannya itu.. memang agak mengagetkan.. tapi justru kata2nya dapat menjadi pengingat kita agar terus berusaha untuk sabar dan ikhlas.. tidak hanya dibibir saja.. tapi juga di lahirnya...
Bagi anakku... hikmah dia harus lebih tenang dan harus pamit jika akan keluar rumah.. menghormati orang tua.. eyang... budenya... dan kakaknya....tidak ceroboh.. tidak teledor... Ya Alloh.. jadikanlah setiap kejadian yang diterima anakku.. baik senang maupun susah.. sebagai suatu hikmah untuk perbaikan perilakunya... Jadikan anakku orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain... orang tuanya... eyangnya.. budenya.. kakaknya... adik2nya... teman2nya... guru2nya.. dan orang2 lain disekitarnya.... doa itu selalu kulantunkan setiap selesai sholat... kabulkan Ya Alloh...
Ya Alloh.. jadikan semua cobaan dan musibah yang menimpa kami suatu jalan peningkatan kualitas iman kami... dekatkan kami selalu dengan Mu.. jangan jauhkan kami dari Mu.. Ya Alloh....
Sabar dan ikhlas semoga bisa kulakukan... walaupun itu tak mudah dilaksanakan...